Centralisasi
Limbah Cair Organik
Limbah ini berasal dari aktifitas keseharian manusia, seperti air kamar mandi, closet (limbah tinja), dapur, air cucian dan sebagainya. Limbah ini mengandung sisa-sisa bahan organik, detergen, minyak, kotoran manusia, dan saat ini didalam limbah domestik pun dijumpai zat-zat kimia yang dipergunakan sehari-hari dalam rumah tangga, seperti pembersih lantai, porstek dan sebagainya. Limbah ini dalam skala yang kecil terlihat sangat sederhana, dan tidak terlalau mengganggu sehingga sebelumnya cukup ditampung oleh septik tank konvensional dan diresapkan ke dalam tanah yang selanjutnya proses penguraiannya tergantung 100% oleh alam. Limbah organik dalam skala yang besar biasanya dihasilkan oleh sekolah-sekolah, hotel, supermarket, pengolahan daging, serta pabrik pengolahan makanan yang lainnya.
Melihat perkembangan jumlah penduduk ditambah dengan konsentrasi limbah di tempat-tempat tertentu (hotel & sarana lainnya) alam sudah tidak mampu lagi menerima dan memproses limbah tersebut.
1. Amanaid H2O Solution Domestic
System ini dikembangkan di Australia oleh “JIM LOMBARD” seorang ahli lingkungan yang berdomisili di Darwin Australia. System ini didisain khusus untuk daerah tropis, sehingga sangat tepat diaplikasikan untuk daerah Bali pada khususnya ataupun daerah lain di Indonesia pada umumnya. System ini sangat tepat digunakan untuk mengolah limbah cair domestik, mencapai kapasitas 50EP (10.000 litre) per hari.
Adapun penjelasan prinsip kerja dari system ini dapat kita lihat dalam beberapa tahapan pokok dalam system ini:
1.1. Primary Tank
Pada tahapan ini, limbah padat dari air kotor dicampur dengan limbah padat dari air bekas. Sehingga terbentuklah suatu kondisi anaerob, dimana fungsi dari tahapan ini adalah untuk menghancurkan limbah padat menjadi limbah cair.
1.2. Treatment Tank
Pada tahapan terdapat beberapa hal yang utama yaitu Volume Tank Besarnya Volume tank ini adalah faktor dominan dalam metode pengolahan limbah ini. Volume tank ini adalah sama dengan kapasitas limbah Hydraulic dari limbah yang akan diolah dalam 1 hari.
1.3. Media Bakteri
Media bakteri berfungsi sebagai generator bakteri aerob, yang berfungsi untuk mengurai limbah yang merupakan sisa-sisa nutrisi yang terbuang. Pertumbuhan bakteri tersebut adalah berbanding lurus dengan luasan permukaan media.
1.4. Debit udara yang diinjeksikan (air pump)
Kebutuhan oksigen dalam tahap ini adalah sekitar 8 liter per menit untuk setiap 200 liter limbah. Pertumbuhan bakteri aerob berbanding lurus dengan debit oksigen yang diinjeksikan dan berbanding lurus dengan luas permukaan media.
1.5. Difuser
Alat ini berfungsi untuk memecah udara menjadi partikel yang lebih kecil sehingga mudah terserap ke dalam air.
1.6. Sedimentation Tank (Tank Pengendap)
Pada Tahapan ini, sisa-sisa dari hasil penguraian ini ditambah sisa-sisa koloni bakteri yang mati dikimpulkan. Dan dalam waktu yang berkala sisa-sisa ini akan dibuang kembali menuju ke treatment tank, dengan memakai pompa yang diatur oleh sebuah timer. Untuk menurunkan Total Suspended Solid, jika diperlukan sebuah sand filter sederhana dapat diaplikasikan, sebelum memasuki tahap berikutnya.
1.7. Desinfectant tank
Pada tahap ini air hasil olahan dialirkan menuju pipa desinfectan. Pipa ini berbentuk tabung yang berisi chlorin tablet, dimana air akan melewatinya untuk memastikan bahwa bakteri patogen serta seperti coli serta virus-virus yang berbahaya mati sebelum air hasil olahan ini kemudian disimpan pada storage tank, atau di buang menuju public gutter. Untuk hasil yang lebih optimal dan ramah lingkungan UV Sterilisizer (Ultra Violet) atau Ozoniser dapat dipakai untuk menggantikan Chlorin desinfectant.
2. Amanaid H2O Solution for Comercial.
Limbah yang dihasilkan oleh Industri atau fasilitas komersial mempunyai volume yang sangat besar serta mengandung banyak variasi dalam komposisinya. Contohnya sebuah industri katering di airport dapat menghasilkan sekitar 300 meter cubic limbah hydraulis per hari yang mengandung konsentrasi minyak dan lemak yang tinggi, serta sisa-sisa material organic yang bervariasi. Industri pengalengan ikan laut, menghasilkan limbah yang mengandung kadar garam yang tinggi, darah serta lemak ikan yang sangat sulit untuk diolah. Bahkan untuk industri tertentu mempunyai kandungan zat-zat kimia beracun yang sangat berbahaya bagi lingkungan, sehingga memerlukan perlakuan-perlakuan khusus.
Tehnologi yang dikembangkan oleh PT. AMANAID dikenal dengan Amanaid H2O Solutions Comercial, adalah sebuah teknologi tepat guna yang unik karena menggabungkan beberapa prinsip sistem pengolahan limbah yang efektif dan efisien.

Untuk tujuan project pengolahan limbah komersial, khusus didisain sistem yang melalui beberapa proses tahapan berikut.
2.1. Pre Treatment
Sebelum memasuki sistem, limbah asal (incoming waste water) harus memenuhi beberapa kondisi yang dapat diterima oleh sistem, karena sistem yang dikembangkan adalah berbasis biological maka beberapa hal-hal yang akan mengganggu perkembangan dari bakteri dalam sistem harus dinetralkan terlebih dahulu. Misalnya kelebihan chlorin (atau zat desinfectant yang lainnya), partikel partikel besar yang sulit hancur. Contohnya untuk limbah restaurant atau industri pengolahan daging yang mengandung FOG (Fat oil & Grease) yang sangat tinggi maka sebelum memasuki tahap Biological Oxidation, kadar FOG harus ditekan. Serangkaian Grease Converter akan diinstall sebagai Pre Treatment untuk mencapai kadar FOG < 75 mg/l.
2.2. Stilling Tank
Stilling tank berfungsi untuk menurunkan kecepatan aliran fluida yang memasuki sistem. Karena kecepatan fluida yang tinggi akan mengganggu sludge yang terakumulasi didasar tank.
2.3. Biological Oxydation
Fluida pada tahap ini akan masuk ke dalam sebuah tank, yang dilengkapi oleh beberapa buble difuser yang di letakkan di dasar tank. Memakai sebuah pompa udara fluida ini akan diaduk merata sambil mendistribusikan Oksigen yang terkandung didalam udara bebas. Ketika oksigen terserap kedalam fluida maka sebuah habitat aerobic terjadi dimana didalam habitat tersebut micro organisme dan sludge yang berbentuk seperti humus akan muncul. Dengan memperhitungkan konsumsi oksigen serta pertumbuhan aktive sludge maka oksidasi dan degradasi limbah organic akan terjadi. Penurunan kadar BOD dan Nutrient serta phospat juga akan terjadi dalam tahap ini.
Kemudian setelah beberapa waktu maka proses aerasi ini dihentikan dengan jalan mematikan pompa udara. Ketika hal ini terjadi maka akan terjadi pengendapan dari aktive sludge atau bio mas ini. Ketika mengendap ke dasar tangki, semua limbah organik akan ikut terperangkap ke dalam biomass tersebut. Sehingga dalam waktu tertentu akan meninggalkan lapisan air bersih diatas permukaan yang kemudian dapat dialirkan menuju tahap berikutnya dengan membuka otomatic valve. Setelah itu proses oksidasi awal akan dilakukan kembali. Seluruh proses ini akan dikendalikan oleh sebuah sistem kontrol memakai rangkaian timer dan peralatan elektronik lainya.
2.4. Secondary Media treatment
Pada tahap ini, limbah yang telah melalui biological oxidation akan masuk ke dalam sebuah kompartemen dengan media bakteri yang terbuat dari corugated pipe. Media ini berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan koloni-koloni bakteri pengurai. Bakteri ini tumbuh berbanding lurus dengan luas permukaan media dan debit oksigen yang disuply serta nutrient yang tersisa. Pada saat ini pula oksigen mempunyai peluang yang lebih besar untuk diserap ke dalam fluida.
2.5. Sedimentation
Pada tahap ini fluida akan diendapkan pada sebuah tangki pengendapan, dimana partikel-partikel berat yang terlewatkan dikumpulkan yang kemudian akan di lemparkan menuju sludge tank.
2.6. Desinfection
Hasil akhir dari pengolahan ini akan dilewatkan pada sebuah tabung chlorinator yang berfungsi untuk membunuh virus virus patogen yang tersisa. Untuk sistem yang lebih optimal dapat pula dipergunakan UV (Ultra Violet) Disinfection Equipment.
2.7. Mechanical Filter
Sand filter bisa ditempatkan sebagai optional untuk pembersihan akhir. Hasil dari backwash ini akan di recycle menuju inlet dari treatment plant. |